Saat duduk dibangku SMP kehidupan Mimi berubah sangat drastis. Padahal waktu SD dia adalah siswa yang cerdas, dia selalu mendapat juara kelas. Entah kenapa saat dia SMP nilai-nilainya tidak ada yang bagus semuanya dibawah rata-rata. Semakin hari dia tidak semangat untuk belajar, kerjaanya hanya main saja dan tidur. Banyak keluhan yang dia alami pada hidupnya.
Dia juga merasa minder disekolahnya karena dia selalu saja diejek-ejek melalui postur tubuhnya, teman-temannya selalu mengejeknya dengan sebutan “ITEM”, “BITEL”. Hal tersebut membuat diri dia semakin tidak percaya diri apalagi dengan postur tubuhnya yang menurut dia tidak sempurna. Walaupun temannya hanya bercanda, tapi menurut mimi bercandanya sudah kelewatan. Karena mimi orangnya cuek jadi dia tidak terlalu memperdulikan. Memang saat itu dia merasa sakit hati tapi dia bukan tipe orang yang kalau sedih sampai berkepanjangan.
Saat SMP ada beberapa kenakalan yang dia lakukan disekolahnya diantaranya Tidak memakai ikat pinggang, tidak memakai baju dengan rapi, dll. Dengan begitu dia mendapatkan hukuman dari guru. Saat upacara pernah dia dihukum tidak memakai kaos kaki diatas lutut, padahal kaos kaki yang dia pakai tuh panjang tapi karena kendor kaos kakinya jadi suka turun-turun. Karena ada guru yang memeriksa dia dicacat namanya, saat upacara selesai namanya dipanggil dan disuruh maju kedepan. hukuman yang dia terima adalah mimi disuruh membeli sabun colek dan kaos kakinya harus dicuci memakai sabun colek terus dijemur dipager sekolah.
Pernah juga dia dan temannya kekantin saat jam belajar sebelumnya mereka belum pernah melakukan hal tersebut, mereka hanya coba-coba. Karena sekolah mereka peraturannya sangat tertib dan disiplin. ada 4 orang yang kekeantin, saat mereka melewati tangga teryata guru piket melihat dari atas lantai 2 Dengan cuek dan terburu-buru mereka tetap pergi kekantin, sampai kantin mereka hanya membeli makanan kecil setelah mereka balik dari kantin berlari-lari ditengah perjalanan mereka bertemu dengan guru BK. Jantung rasanya mau copot saat itu, mereka menyapa guru tersebut teryata guru tersebut balik menyapa dan tidak memarahinya saat itu. Merekapun merasa aman.
Saat melewati tangga guru piket dari atas melambaikan tangan kerah kita pertanda buruk datang, dengan buru-buru mereka naik keatas dengan membawa makanan ditangan masing-masing. Karena sudah ketakutan makanannya kita buang ketempat sampah. Ya sudah kita dipanggil guru piket dan disitu kita dimarahin, diceramahi pokoknya deg-degan banget deh. Kita diberi hukuman disuruh skot jam sebanyak 50kali, terus menulis ditata tertib sebanyak 1 lembar, dan minta tanda tangan orang tua. isi tulisannya “Saya Tidak akan kekantin Lagi Saat Jam Pelajaran”.
Saat Mimi duduk dikelas 2 SMP, Mimi harus kehilangan seorang ayah. Ayah mimi meninggal dikarenakan sakit ginjal. Disitu mimi sangat hancur karena mimi tidak meyangka akan terjadi musibah tersebut. Malamnya mimi masih bercanda dengan ayahnya dan hari itu saudara-saudara mimi menginap dirumahnya, padahal keesokan harinya mereka berencana mau berenang. Hati mimi sangat terpukul saat ayahnya meninggal, karena adik mimi masih sangat kecil, adik mimi berumur 1 tahun saat it dan kakak mimi duduk dikelas 3 SMP.
Hanya kesedihan dan kesepian yang dirasakan mimi. Mimi memikirkan adiknya yang masih kecil. karena dia harus kehilangan seorang ayah dan tidak merasakan kasih sayang dari seorang ayah. pesan ayah mimi saat itu yang sangat berarti dan yang selalu diingatnya adalah kita semua harus jadi anak-anak yang sukses, jangan pernah menyerah dan selalu takut akan Tuhan. Ayah juga selalu bilang kalau mimi malas-malasan belajar mending jadi tukang sayur aja didepan rumah.
Waktu terus berjalan sampai saat itu mimi duduk dikelas 3 SMP. Saat duduk dikelas 3 mimi masih saja malas belajar padahal dia akan menghadapi ujian akhir sekolah. Mimi sangat tidak peduli, dia masih saja santai seperti orang yang tidak ada beban. Waktu belajar mimi menyiapkan buku diruang tamu sampai bertumpuk-tumpuk tapi apa yang dilakukan mimi, disitu dia cuman pura-pura belajar, dia malah smsan dan benggong. Setiap mamanya lewat diruang tamu dia langsung mengambil sikap yang serius seperti orang yang belajar beneran. Sikap itu dia lakukan terus-menerus sampai menjelang ujian akhir sekolah. (bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar